19 Mei 2016

Merencanakan Kesuksesan Akademik

Beberapa hari lalu, ada yang cerita tentang nilainya, IP dan IPK. Singkatnya begini, IPK semester lalu 2,9xx lalu semester ini mendapat IP 3,xxx. Nah, kagetnya kok IPK juga belum melewati ke 3,0. Hm, jadi merasa ingin cerita tentang hal ini. Saya dulu adalah mahasiswa yang penuh strategi, haha, bukan sosok mahasiswa yang ideal. Maksunya bukan mahasiswa tulen yang selalu rajin masuk ke kelas, dengan tugas selalu baik atau nilai kuis yang tinggi, tapi selalu berusaha tobat di kesempatan terakhir, yup pas UAS. Berdasarkan kesepakatan waktu kontrak kuliah, prosetase nilai tiap elemen kuliah cukup jadi fokus, yaitu prosentase UTS dan UAS seringkali jauh lebih tinggi. Tapi ada juga mata kuliah yang poin tugasnya yang masyaAllah, karena hampir 2 minggu sekali ada tugas. Kembali ke topik ya, merencanakan kesuksesan akademik ini perlu, agar motivasi kuliah bisa tetap terjaga, dan semangat pantang menyerah juga selalu membara.#eaaa

Kuliah, masa pembelajaran yang cukup, di sana ada proses belajar dan evaluasi. Sederhananya, mahasiswa yang kuliah adalah yang punya cita-cita untuk jadi lebih baik. Entah, setelah lulus kuliah ada yang kerja kantoran atau juga ada yang jadi pengusaha. Itu pilihan setelah lulus. Tapi yang perlu diperhatikan adalah pas kuliah, yaitu mau lulus seperti apa kita? Kalau ada pesan “jangan jadi mahasiswa kupu-kupu” (kuliah-pulang-kuliah-pulang), ada lagi “jangan jadi mahasiswa yang biasa”, atau ada banyak pesan yang lain. Ahhh, terserah dah, itu juga pilihan. Kalian (baca mahasiswa) mau mengisi masa kuliah seperti apa, tapi hal yang pasti adalah ditanya sama ortu adalah “KAPAN LULUS?” atau “KAPAN WISUDA?”. Jadi momen sidang skripsi adalah momen yang ditunggu, apalagi pas yudisium diumumkan nama kita kalau “LULUS”. Nah, cukup disini intronya, selanjutnya pertanyaannya IPKmu berapa? Ups, diem. Banyak mahasiswa (asumsi saya sendiri, karena dulu menemukan teman-teman semasa kuliah kayak gitu, semoga sekarang ga banyak lagi) adalah sosok mahasiswa yang ikhlas, mahasiswa yang menerima kenyataan dan takdir yang sudah diputuskan saat pengumuman IPK. Hehe, karena sudah tak bisa protes, kecuali kalau protes nilai akhir matkul gitu ya (#nyindir kejadian semester lalu).

Yuk, merencanakan kesuksesan akademik. Tak hanya mengejar IPK dan cepat lulus, tapi kita belajar merencanakan dan berusaha konsisten dengan rencana dan target kita. Berikut adalah contoh kasus :
-          Mahasiswa (sebut saja Budi, bukan nama sebenarnya), semester 6, IPK sekarang 2,91 lalu ingin lulus semester 8 dengan IPK minimal 3. Terserah 3 koma berapa, yang penting 3 (katanya Budi gitu). Sekarang (baca semester 6) Budi mengambil 7 mata kuliah, yang jumlahnya 20 sks, dengan rincian seperti ini :
o   Matkul A  : 3 SKS
o   Matkul B  : 3 SKS
o   Matkul C  : 3 SKS
o   Matkul D  : 3 SKS
o   Matkul E  : 3 SKS
o   Matkul F : 3 SKS
o   Matkul G  : 2 SKS
Sampai dengan semester 5, Budi sudah menempuh 103 sks, semester depan (baca semester 7 21, lalu semester 8 ambil skripsi 6 sks). Sehingga total 150 sks.

Nah gitu ya ceritanya, oke kita mulai bahas strategi tentang angka dan huruf. Kalau mahasiswa masih tenang dengan mengikuti filosofi air, yang mengikuti saja, atau yang penting lulus dari matakuliah. Ya, ga usah kaget kalau dapatnya ya lulus. Maksud saya, agar lulus secara makna dan juga nilai mendukung kesuksesan berikutnya. Eits, tapi bukan berarti IPK adalah satu-satunya parameter kesuksesan akademik. No….besar. Hanya saja, poin merencanakan kesuksesan sesuai target lalu konsekuen dengan tanggung jawab, maka disitu poinnya.
Mulai ya :
Target lulus dengan IPK minimal 3,0 -> sebut saja pingin 3,10

Target : 150 sks x 3.1 = 465
Kenyataan : 103 x 2.91 = 299,73
Perjuangan : 465 – 299,73 = 165,27

Idealnya : 165,27 : 47 sks sisa =  3,5163
Lalu kita detail per semester :
Semester  6 : 20 sks
Semester  7 : 21 sks
Semester  8 : 6 sks (hanya skripsi) -> target A = 4 X 6 SKS = 24 poin

Jadi beban semester 6 dan 7 adalah poin perjuangan dikurangi poin skripsi = 165,27 – 24 = 141,27
Lanjut di semester 6 dan 7 sekarang ya, 141,27 : 41 = 3,446 (Kalau seperti ini, pilihan harus A minimal B)

OPSI 1 :
Semester 6 dengan 20 sks (7 matkul), rincian targetan nilai huruf
o   Matkul A  : 3 SKS ->  A  sehingga  4x3 = 12 poin
o   Matkul B  : 3 SKS -> A sehingga  4x3 = 12 poin
o   Matkul C  : 3 SKS -> A sehingga  4x3 = 12 poin
o   Matkul D  : 3 SKS -> B sehingga  3x3 = 9 poin
o   Matkul E  : 3 SKS -> B sehingga  3x3 = 9 poin
o   Matkul F : 3 SKS -> A sehingga  4x3 = 12 poin
o   Matkul G  : 2 SKS -> A sehingga  4x2 = 8 poin
Total dari target : 74 poin. Lalu IP target = 74 : 20 sks = 3,7

Wow, amazing kan. Hehe, mungkin kalau target ini ketinggian ya bisa disesuaikan lah. Namanya juga mimpi, harus  tinggi ke langit. Lalu usahanya juga melangit. Nah kalau kayak gitu targetnya, jadi sisa poin yang harus dikejar untuk semester 7 sisanya = 141,27 – 74 = 67,27. Hal ini bisa meringankan beban semester 7, yang IP harus dicapai = 67,27 : 21 = 3,2.  Misalnya rinciannya jadi seperti ini :

o   Matkul A  : 3 SKS ->  B  sehingga  3x3 = 9 poin
o   Matkul B  : 3 SKS -> A sehingga  4x3 = 12 poin
o   Matkul C  : 3 SKS -> A sehingga  4x3 = 12 poin
o   Matkul D  : 3 SKS -> B sehingga  3x3 = 9 poin
o   Matkul E  : 3 SKS -> B sehingga  3x3 = 9 poin
o   Matkul F : 3 SKS -> A sehingga  4x3 = 12 poin
o   Matkul G  : 3 SKS -> c sehingga  2x3 = 6 poin
Total poin = 69 poin, lalu dibagi 21 sks = 69 : 21 sks = 3,28
Nah kalau sepertinya, melebihi IPK 3,10 lho.. ^_^

Ringkasan total : 103 sks dengan total poin 299,73. Semester 6 dengan target total poin  74, lalu semester 7 dengan target total  poin 69 plus skripsi A jadi 24 poin. Keseluruhan dijumlah  jadi berapa ?  299,73 + 74 + 69 + 24 = 466,73. Kalau total ini dibagi 150 sks jadi IPK lulus mencapai 3,11.  Selamat, alhamdulillah…..eh belum ya.

Hm,ini baru desain rencana satu.  Mau ralat yang rencana di semester 6 deh. Itu ketinggian kayaknya . Okelah, kita turunkan. Hm, tapi yang semester 7 bolehlah kayak gitu. Oke, jadi yang pertama di atas adalah opsi 1. Kita buat opsi 2 sekarang.


OPSI 2 :

Semester 6 dengan 20 sks (7 matkul) dengan rincian targetan nilai huruf berikut :
o   Matkul A  : 3 SKS ->  A  sehingga  4x3 = 12 poin
o   Matkul B  : 3 SKS -> A sehingga  4x3 = 12 poin
o   Matkul C  : 3 SKS -> A sehingga  4x3 = 12 poin
o   Matkul D  : 3 SKS -> B sehingga  3x3 = 9 poin
o   Matkul E  : 3 SKS -> B sehingga  3x3 = 9 poin
o   Matkul F : 3 SKS -> C sehingga  2x3 = 6 poin
o   Matkul G  : 2 SKS -> A sehingga  4x2 = 8 poin
Total dari target : 68 poin. Lalu IP target = 68 : 20 sks = 3,4

Kalau kondisi targetnya seperti ini, semangat ya, buat merealisasikan. Malah harusnya melampaui itu. Oke, kita save dulu. Jadi beban poin yang harus dicapai di semester 7 adalah 141,27 – 68 = 73,27.


Semester 7 dengan 21 sks (7 matkul) dengan rincian targetan nilai huruf berikut :
o   Matkul A  : 3 SKS ->  A  sehingga  4x3 = 12 poin
o   Matkul B  : 3 SKS -> A sehingga  4x3 = 12 poin
o   Matkul C  : 3 SKS -> A sehingga  4x3 = 12 poin
o   Matkul D  : 3 SKS -> A sehingga  4x3 = 12 poin
o   Matkul E  : 3 SKS -> B sehingga  3x3 = 9 poin
o   Matkul F : 3 SKS -> B sehingga  3x3 = 9 poin
o   Matkul G  : 3 SKS -> B sehingga  3x3 = 9 poin
Total dari target : 75 poin. Lalu IP target = 75 : 21 sks = 3,571

Nah, masih ada surplus nih, 75 – 73,27 = 1.73.

Oke, kita buat ringkasan total dari opsi 2 ini : 103 sks dengan total poin 299,73. Semester 6 dengan target total poin  68, lalu semester 7 dengan target total  poin 75 plus skripsi A jadi 24 poin. Keseluruhan dijumlah  =  299,73 + 68 + 75 + 24 = 466,73. Kalau total ini dibagi 150 sks jadi IPK lulus mencapai 3,11.  Wah, so sweet kok sama ya dengan opsi 1. Kalau sama gitu berarti jodoh katanya, eh. Apaan coba -_-.

Ya sudah, mungkin cukup dulu ya! Selamat mencoba merencanakan. Ini baru target, nanti evaluasi lagi setelah selesai terima KHS, apakah target semeter depan harus naik atau tetap. ^_^ Semoga kuliahnya jadi menyenangkan, karena tak hanya pasrah dengan kenyataan. Apalagi hanya tergantung sama dosen yang ngajar, hm, ga boleh gitu. Mahasiswa harus punya cara belajar yang mandiri dan profesional. Hehe….

See you, semoga bermanfaat. Yuk rencanakan kesuksesan kita mulai sekarang. Ada quote terkenal kan, bahwa SUKSES MERENCANAKAN = MERENCANAKAN SUKSES, lengkapnya “Dengan sukses merencanakan, berarti Anda telah merencanakan untuk sukses. Tidak ada kata terlambat, mulailah dari sekarang, tulis mimpi Anda”.

Semoga sukses semuanya baik akademik maupun yang lainnya... ^_^




04 Maret 2016

Pengalaman [Belajar] Jadi Dosen Part 2

Hai semuanya….khususnya dek @helda. Ini part 2 yang mau saya ceritakan. Jadi part 1 kemarin, saya cerita sedikit tentang poin Adaptasi. Adaptasi terhadap semuanya, tentang cuaca juga lho. Panas banget di karawang, hehe. Kalau hujan hampir setiap hari, jadi sejuk dan dingin. ^_^
Oke, part 2 ini sedikitnya saya cerita tentang membangun percaya diri. Ya, percaya diri memang sudah sifat asli kita. Nah disini, hard skill dan soft skill harus dimainkan. Membangun percaya diri bisa dengan cepat tegak kalau amunisi alias bekalnya lengkap. Yup, kompetensi atau keahlian dan soft skill yang bisa diterapkan dengan baik. Hm, saya kira bagi dosen baru gitu dianggapnya masih “unyu”, jadi kayak Maba harus ada ospeknya. Hahaha,ternyata ada beneran. Ospek ala dosen , ospek (orientasi kehidupan kampus) berupa apa saja hal-hal baru yang harus kita tahu dan kita jalankan. Ya, tentang aturan kerja. Mungkin tak semuanya tertuliskan peraturan dan SOPnya. Ada kalanya memang harus banyak tanya, maklum masih baru. ^_^
Membangun percaya diri itu gampang gampang susah. Sengaja gampangnya ditulis dua kali, biar ga terkesan horor jadi dosen. Ya, mulai bahas kompetensi yuk. Ingat masih awal wawancara dan ngisi biodata pas ngelamar jadi dosen, harusnya nulisnya detail tentang minat dan kepakaran kita dimana. Fungsinya jelas selain kita PD dengan ilmu yang kita pahami, bisa mempermudah pak kaprodi atau PJ bagi jobdesk tugas ngajar. Nah, semester lalu (semester 5) saya dapat matkul Pengantar AI. Yup, ini gue banget! #eh Minimal walau ga pakar-pakar banget, alias ga begitu paham detailnya, dulu pas kuliah S1 sudah pernah ikuti semua matkul AI (mulai AI, Algen, JST, Fuzzy, dan sistem pakar). Jadi merasa sok pede, tapi gpp anggap ini modal pertama. 
Lalu setelah dapat poin bahwa kita ini sebenarnya punya kompetensi, jadi modal PDnya sudah terisi. Lalu yang soft skill, ini nih mengingatkan sama kegiatan berorganisasi pas zaman kuliah. Namanya juga soft skillm kemampuan yang keliatan, tapi ada banyak hal yang terasa. Mulai dari kedisiplinan, komitmen kerja serta profesionalitas. Wuuuushhh, jadi jadi dosen di awal-awal pertemuan, juga harus membangun karakter, yah itung-itung mau dikenal atau dicap kayak apa sama Mahasiswa? Hm, membangun percaya diri dimulai dari kelas pertama, Yup on time. ^_^ Tepat waktu masuknya. 
Ya, di awal-awal pekan pertama,a saya merasa antara dosen dan mahasiswa  memang lagi proses taaruf, kenalan lah. Jadinya hampir semuanya sudah OK, on time, yang terlambat dikit. Eeeeehhhh, lama-lama kok gitu.
Iklan sejenak ya, sesi curhat saya. Senin jam 09.30 itu jam kelas pertama. Setiap weekend saya berkunjung ke Depok, untuk mrefreshing hati dan pikiran #eaaa. Senin pagi buta, setelah sholat subuh harus berangkat ke karawang. Pertama kali kesalahan saya, berangkat dari kost teman jam 6, lalu naik Gojek sampai ke pasar rebo untuk naik bisa agramas. Ya Allah, begitu banyak orang jam 7 sudah berdiri, bisa agramas full karyawan atau penumpang yang mau berangkat kerja. Entah pikiran ini kemana, langsung milih naik bis yang arah Bekasi, saya turun Cawang. Niatnya ganti alat transportasi, sebut Elef Cawang-Karawang. Oke, hampir jam 8 belum ada yang lewat tuh Elef. Alhamdulillah bertemu dengan bapak-bapak yang juga mau ke Karawang, sudah nunggu dari jam 7. Hm, akhirnya jam 8.15 an baru naik elef, alhamdulillah lega. Hanya saja pikiran selanjutnya adalah sampai karawang jam berapa -__-’. Sungguh dilema,takut telat, atau parahnya takut mahasiswa sudah pulang. Selama perjalanan bingung, tanya dan hubungi beberapa dosen dan minta no hp ketua kelasnya. Setelah dapat kontaknya, saya hubungi dan menyampaikan kalau kemungkinan terlambat. Nah, alhamdulillah sampai karawang jam 9.15an. Lalu langsung ambil motor yang dititipin dan langsung ke kampus. Setelah absen masuk, jam 09.31, yah, tepat. Lalu buru-buru masuk kelas. Dan…..tahu apa yang terjadi. ^_^. Kelas kosong. hahahhaha, hanya 3 orang yang datang. Sungguh, rasanya tuhhhhhh. Hal ini menguji kesabaran. Selain membangun percaya diri, poin ini juga menguatkan mental. ^_^ Masak kayak gitu marah-marah, paling cuma nyindir. Saya aja daro Depok jam 6 ga telat, Anda yang di Karawang telat masuk kelas. -_-”
Oke, lanjut lagi. Pengalaman belajar jadi dosen tak cukup disitu. Belajar menyiapkan materi pasti di awal rajin bukan main. Setelah tahu diberi tugas ngajar apa seminggu sebelum masuk. Jadinya belajarnya seminggu untuk 1 matkul 1 pertemuan, begitu lanjut terus selama satu semester. Wkwkwk. Persiapannya mantep deh, sampai-sampai jumlah slidenya lebih dari 50. Hahaha….setelah kelas selesai, seperti biasa pertanyaan penutup , “Ada yang ditanyakan?”. Lalu diam semuanya, hehehe. Mantep. Itu diem ada dua opsi, diam karena memang ga ada pertanyaan atau diam karena ga paham sama sekali sehingga ga tahu mau tanya apa. Nah, waktu awal-awal kalau mau tahu jawaban aslinya, harus siap berlapang dada. Opsi jawabannya “ga ngerti sama sekali”. Hahaha. Itu baru saya lakukan di pertemuan ke 4 kalau ga salah, di saat kok kelasnya sepi dan aneh gitu sensasinya. Kata mereka, “ya, bahasanya terlalu tinggi bu”. Howalaaaaah. Ampun dah. 
Unsika memang sekarang sudah negeri, tapi baru setahun. Jadi mahasiswanya masih ada yang sistem swasta, yaitu spesial ada kelas karyawan. Nah, awal-awal kaget, hahaha, sensasinya agak beda, ngomong di depan yang lebih senior. Jadinya buat awalan, ya minta maaf kalau kata-katanya terlalu cepat atau ada hal yang ga paham, langsung tanya saja. Eh, dari mahasiswanya juga bingung, ini manggilnya apa “mbak” atau “bu”. Ya, akhirnya tetap manggil ibu, walau ditambah “muda” diakhir.
Oke, lanjut ya. Cerita tentang mengajar dan menyampaikan di kelas. Itu juga butuh latihan dan penyesuaian. Apalagi di unsika yang “jawa barat” banget, saya yang “jawa timur” banget, itu sensasinya lucu juga. Di kelas, ternyata banyak yang senyum-senyum bukan karena materinya lucu, tapi logat medok saya yang lucu. Awal-awal ga paham, dimana lucunya. Eh, ternyata. MasyaAllah. Posisi seperti ini jangan dianggap bahwa itu suatu hinaan atau cacian, eaaa, itu hanya side effect bahwa Indonesia itu begitu cantik. *_* opo hubungane. Malah, kalau saya yang masuk kelas ada mahasiswa yang dari jawa, rasanya mereka bisa leluasa nyeplos menggunakan bahasa jawa.Hahaha, java sentris banget.
Oke, jadi percaya diri itu perlu, dan memang penting. Tapi tetap ada batasnya, ga boleh keblablasan, atau kepedean, jatuhnya ke sombong. Tetaplah rendah hati, tong kosong nyaring bunyinya, tong berisi pasti akan ketahuan juga isinya apa. Walau tampak covernya gak cantik, tapi setelah tahu tenyata manis. Howalah, apaan. Tapi ada benarnya, kalau kita tahu gaya model dosen masa kini itu juga macam-macam. Apalagi para dosen perempuan, ibu-ibunya kadang ada yang supercantik, ada yang sosialitas, ada yang jilbaber, ada pula yang biasa-biasa aja. 
Udah dulu ya, cukup sekian cerita part 2. Semoga ada manfaatnya, kalau ga ada manfaatnya, anggap ini jadi hiburan sesaat. Hehehe,saya cerita kayak gini, bisa ngebayangin bentuk kejadian aslinya kah. Hahaha. ^_^ apalagi bayangin muka dan ekspresi saya. #eh
Nantikan part 3 nya ya….^_^
salam,

03 Maret 2016

Pengalaman [Belajar] Jadi Dosen [Part 1]

Tulisan ini saya mulai karena ada yang minta saya cerita #sokyesbanget.  Ya beneran, colek dek @helda yang sekarang lagi kuliah di NCU Taiwan. Padahal dari sudut mana-mana, diri ini mah apa atuh. Hahaha, ga sekeren dia (refer ke yang minta cerita). Nanti saya minta cerita gimana kuliah s2 di luar negeri ya...
Oke,bismillah. Saya mulai serius yah. Tentang pengalaman jadi dosen [baru 1 semester]. Memang ga layak kalau ngomongin pengalaman seumur jagung gini, ya iyalah baruuuu saja merasakan dan dapat title dosen.Lalu sebelumnya ituuuu tuh pas di malang, sebutannya instruktur. Hahaha. Oke, saya ganti ya judulnya, pengalaman belajar jadi dosen. Yup, sepakat kan?
Alhamdulillah, sudah 1 semester dijalani. Perasaannya lega, banget! Serasa selesai dari beban satu, ketemu semester baru. Hahaha, sensasi lagi, tapi mungkin ga shock kayak di awal. Boleh jadi karena doeloe kala pernah ambil profesi ngomong di depan kelas, jelasin teknis atau teori dikit-dikit ke anak-anak yang baru lulus SMA, kalau malam cerita di kelas karyawan. Hm, bisa jadi. Tapi apapun itu, pengalaman fix setelah lulus S2 lalu jadi dosen itu sesuatu.
Oke, beberapa hal yang mungkin bisa saya tulis di Part 1 ini hanya tentang Adaptasi di awal, apalagi di kampus baru. Hohoho, kayak film bioskop aja ada part 1, part 2#Gamaukalah.
Adaptasi, adalah suatu hal yang niscaya harus dilakukan siapapun di tempat baru. Tak terkecuali jadi dosen, jadi apapun kita pasti harus bisa cepat adaptasi. Kita ga boleh kalah sama bunglon yang bisa ganti warna dalam hal adaptasi dan menyamankan diri, tapi kita  ga boleh mencla mencle omongannya, apalgi prinsipnya. Kembali ke topik adaptasi, sebagai dosen baru harus tahu siapa saja orang-orang yang baru kita jumpai, baik dosen yang lain, para pejabat kampus/fakultas, sampai mahasiswanya. Maklum di awal mungkin belum hafal, tapi minimal seminggu tahu dan merasakan jadwal ketemu dengan siapa saja. Minimal wajahnya dihafal, sehingga kalau ketemu dimana bisa menyapa. 
Adaptasi juga perlu dilakukan dalam hal budaya kerja. Hal ini penting banget, agar tahu gimana caranya bisa kerja sama dalam satu instansi pendidikan ini. Pahami juga model model karakter dosen beserta mahasiswanya. Kita sehari baru masuk ga aka bisa, dan ga mungkin bisa mengubah dengan aturan seenaknya sendiri. Contohnya apa? Oke,saya sebutin yang sederhana. Masuk pertemuan pertama isinya adalah kontrak kuliah, di dalamnya ada kesepakatan prosentase nilai macem-macem. Awalnya saya kaget, ada 10% buat presensi. Soalnya pas kuliah dulu S1, S2 ga nemu poin kehadiran. Dulu hanya ada syarat 80% kuliah, kalau kurang dari itu ga boleh ikut UAS. Nah, awal pertemuan malah saya edit jadi cuma 5%. Ya iyalah, semua mahasiswa protes. Wkwkwk, hal ini sudah berjalan lama tentang prosentase kehadiran. Lalu, kondisi mahasiswanya yang saya hadapi bukan Maba, tapi semester 5 ditambah mereka ada yang kerja. Baru ngeh ternyata efek dari 10% itu ada, yaitu terpaksa harus masuk kuliah, kan lumayan dapat poin 10 kalau full. Itu satu poin. Memang kalau mau perubahan drastis, ya hapus saja poin 10% digantikan ke tugas atau UAS. Tapi, saya milih menyesuaikan dulu.
Oke, adaptasi yang lain adalah dengan teman seperjuangan, sesama dosen. Hal ini akan terasa selama awal-awal, ada banyak karakter yang luar biasa baik di sekitar kita. Contohnya kalau diajak makan bareng, oke. Kalau diajak sholat on time juga oke. Adaptasi yang versi ini tergantung levelnya, bagi saya awal-awal masih pendiem lho.#serius. Setelah sebulan baru nyaman bisa cerewet, aslinya tampak deh. Tapi kalau lagi ngetumblr kayak gini, saya diem lho, tangan sambil ngetik, batin lagi ngomong.
Selain adaptasi dengan manusia, lingkungan dan budaya. Ada lagi tahap adaptasi tentang status.#eaaa. Bukan status single atau married lho. Ini status jadi dosen. Nah, mulai deh doktrin tentang segala macam per-dosen-an. Hihihi. Yup, tri dharma perguruan tinggi. Pandangan jelas tentang peran dosen, di bagian pengajaran (mengajar dan mendidik), bagian penelitian dan pengabdian masyarakat. Ini 3 poin yang wow. Beneran, berat euy. Tapi ya konsekuensi jadi dosen begitu.
Nah, ada banyak pertanyaan. Kenapa mau jadi dosen? Apa yang dicari? Kan gajinya kecil? Suka ngajar? atau karena ada alasan lain?
bersambung....
Tetap ingin jadi dosen?

19 Februari 2016

Beban dan Kesanggpupan


Ahh, terlalu idealis memang. Tapi tak apalah, itu namanya masih punya orientasi da prinsip yang masih diperjuangkan. #eaa
Tapi sepertinya memang perlu kembali kusampaikan kepada diri sendiri tentang 2 hal itu, tentang beban dan kesanggupan. Memang enaknya adalah jika sanggup maka diberi amanah. Tetapi yang sering terjadi adalah, jika [tampaknya] sanggup, maka diberi amanah. Nah, amanah sering identik dengan beban. Ujung-ujungnya jadi mengeluh karena amanah tersebut malah menambah beban hidup #ups. Jadi deh,mengeluh dan tidak legowo.
Waduh, tenang tenang. Aku tidak mengajak orang lain dalam bahasan tulisan ini. Hanya saja kalau misal posisinya sama, ya sok atuh nimbrung. Hm, jadi seharusnya diri kita pun harus punya daya tahan dan daya juang. Hidup ini memang begitu, unpredictable. Tak semuanya sesuai keinginan dan request kita. Pun dengan amanah atau tugas, pastinya ada momen dimana kita newbie di bidang tersebut. Tak akan ada istilah “pengalaman” dan “pakar” kalau tak mengalami namanya “percobaan”, atau malah uji coba, lebih parahnya coba-coba. Hahahaha. #puasbangeketawanya
Ya udah lah, gitu aja. Singkatnya, dalam kenyataan sepertinya logikanya beda. Kalau maunya kita, jika sanggup beneran maka silakan diberi amanah atau tugas kerja. Tapi pola kerja seringnya terbalik, jika diberi kerja maka harusnya jadi sanggup. Ada 5 langkah untuk membangun sesuatu menjadi kebiasaan, dari mulai dipaksa-terpaksa-bisa-biasa-kebiasaan. Nah, saat masih merasa dipaksa, pasti deh merasa terpaksa banget. Hahaha, seperti biasalah kalau kepepet mah bisa akhirnya. Hehehe, saat sudah bisa, jadi biasa deh. Kalau sudah biasa, kalau diterusin jadi kebiasaan. Nah, kebiasaan inilah yang seringkali bisa membentuk karakter. Huhuhu, panjang banget ya. Tapi kembali ke pola pikir deh. Jangan karena ga bisa, jadi nyerah begitu. #yes
Tetep semangat ya semuanyaaa….
salam,

30 Januari 2016

Update Blog Nih #eh


Hai sahabat, lama banget ya ga nulis cerita di blogspot ini, padahal ini adalah blog pertama yang membuatku senang cerita lewat tulisan. Dari blog ini jugalah, aku punya banyak teman baru #eaa. Gara-gara ceritaku tentang beasiswa s2 BPPDN Calon dosen DIKTI juga, banyak yang main ke blog mungil ini. Semoga semakin semangat ya semuanya!!!!

Teknologi semakin pesat, begitu juga dunia sosmed. Dari mulai Facebook, Twitter, adalagi Tumblr. Ya...aku lebih sering curhatnya di tumblr, soalnya ngerasa ngetiknya ga harus panjang-panjang. Lalu, selama 4 bulan terakhir, lebih niat ngurus blog sebelah yang serius, ya yang isinya tentang kuliah dan materi plus curcol dikit.

Nah, sekarang masuk dalam masa-masa pengabdian di UNSIKA. Hm, jangan dipikir kalau pengabdian ngajar DIKTI memberatkan atau menyengsarakan. Justru bisa jadi menyenangkan. Hahaha, sampe banyak cerita di setiap harinya.

Ini dulu deh buat tanda update lagi, saya kembali ke sini.
Biasanya postingan di tumblr saya repost kesini. Hahaha.

Abis ini mungkin akan banyak uji kreasi di inspirasi.co, hehe, sosmed karya anak Indonesia. Patut dicoba. #promosi

Oke, salam

15 Desember 2015

Wajarlah, Kan Masih Mahasiswa!

Wajarlah, Kan Masih Mahasiswa! 
Begitulah kalau dulu ucapku saat menjadi mahasiswa kalau melakukan sesuatu yang di luar prosedur yang sudah ditentukan. Mahasiswa juga manusia, iya lah, apa lagi emangnya. Misalnya masalah kedatangan ke kelas, wajarlah semuanya mahasiswa ada juga kepentingan atau kerjaan di luar kuliah, sebut saja kerja atau organisasi mungkin. Tapi, ada batas toleransinya lah, jangan sampe dosen udah ucapkan “wassalam” lalu baru datang.
Selama sepekan ini, saya mengingat-ingat apa yang pernah saya lakukan sebagai mahasiswa. Hahaha, kayak kilas balik alias nostalgia jadi mahasiswa. Kenapa begitu? Saya ingin mengevaluasi diri sendiri sebelum “marah-marah” ke mahasiswa.Halah.
Pertama : Terlambat Masuk Kelas
Hm, hari Senin kemarin (14 Desember 2015), luar biasa terasa perjuangan. Udah bangun sebelum jam 4, setelah sholat subuh lalu persiapan dan packing. Karena suatu hal, baru berangkat dari Depok menuju terminal Kp. Rambutan jam 05.30. Sungguh, menyesal rasanya. Biasanya saya sudah berada di terminal jam segitu, karena berangkatnya sebelum jam 5. Hm, jadinya baru naik bis Agramas dari Kp Rambutan sekitar jam 07.30, dan sampai Karawang jam 09.15. Langsung deh otw menuju kampus, dan sungguh tepat 09.29 absen di Fasilkom. Yah. duduk bentar lah, lalu jalan ke ruang kelas. Bisa dibayangkan, wajahku kayak gimana. Awalnya membayangkan takut para mahasiswanya nunggu,eh, ternyata sebaliknya. Kosong. Kelasnya hanya meja dan kursi, itu jam 09.38. Hohoho, ini ingat sekali ya. Ya, merasakan gimana perasaan dosen yang terlalu rajin kayak gini ya. Hahaha. Akhirnya sambil nunggu, nambahin di slide, ada fase pre test dan post test. Hihihi, kreatif kan. ^_^ usil dikit lah, sebagai pelampiasan pada yang terlambat. Walaupun memang sangat amat berguna, jadi seru awal dan akhir kuliahnya. Ini serunya dimana coba #katamahasiswa. Wajarlah, kan masih mahasiswa
Kedua : Mengerjakan Tugas Mendekati Deadline
Hihihi, iya banget dah! Hayo ngaku? Mahasiswa akan dengan efektif dan efisien mengerjakan segala macam tugasnya mendekati deadline. Padahal tugas sudah disampaikan dari sebulan lalu. T_T. Ini sudah hampir dekat dikumpulkan, baru deh bingung dan serius. Hihihi, dasar! Padahal dosen sudah merancang sedemikian rupa gimana caranya para mahasiswanya bisa memanajemen waktunya dengan baik. Huh, wajarlah, kan masih mahasiswa.
Oke, dua dulu ya. Lain kali aku cerita lagi. Soalnya di ruangan tinggal aku doang, semua udah pulang atau ada yang lagi ngajar di kelas. Hihihi, dikira serius baca jurnal atau ngetik paper, eh, malah ngetik di tumblr. #eh
Udah lama, ga nulis curhatan disini #eh. 
Merasakan “gemes” dan ingin memberikan “sesuatu” kepada para mahasiswaku tersayang, tapi apa daya rasanya. Cuma bisa senyum “kaku”, atau hanya istighfar berkali-kali, mengingat dulu aku mungkin pernah melakukan kesalahan yang sama. Hanya saja, aku masih pede, dulu jadi mahasiswa yang walau “telatan” endingnya bisa jadi mahasiswa “teladan”. #pedebgt ya. 
Begitu maksud saya, walau mungkin “kadang nyebelin”, tapi tunjukkan bahwa ada kualitas dan usaha untuk bisa memperbaiki. Kalau ada satu momen dimana memang bener-bener di luar kuasa, ya sudah. Jangan terus-terus meminta toleransi ataupun kelonggaran dan kebaikan dosen, tapi tunjukkan saja usaha dan itikad baiknya. Sungguh, dosen juga manusia. Mungkin ini poin yang penting juga, dosen itu pernah jadi mahasiswa. Wkwkwk. Sehingga, keinginan dan harapan dosen adalah para mahasiswanya tidak melakukan kesalahan yang sama atau justru melakukan yang lebih parah.
Mungkin banyak tulisan inspirasi dari para dosen teladan di negeri ini. Tak hanya materi dan ilmu yang OK, tapi akhlak dan pribadinya yang sungguh luar biasa. Kalau ketemu aku langsung, mungkin bisa tahu bahwa kadang “mood” di tiap kelas bisa jadi berubah, atau emosi yang agak “gemes” bisa juga muncul. Hm, sabar itu harus terus ditingkatkan ! 
Ya udah lah, gitu dulu. Dari tadi ga buyar-buyar ini tulisannya. 
see you.

Note : Ini tulisan versi saya sendiri, mohon maaf tidak ada unsur menuduh atau marah ke siapa-siapa. Hanya sebagai refleksi saya yang pernah jadi mahasiswa dan sekarang lagi belajar untuk bisa beneran jadi dosen. Sekarang (baca baru 3 bulan ini mau 4 bulan) merasakan dinamikanya di kampus, yang sungguh membuat pingin curhat.#eh. 
Kepada para mahasiswa, yuk belajar dengan baik dan benar, belajar dengan ihsan (melakukan yang terbaik). Kalau dosennya salah, ya diingatkan plus dimaafkan ya.
salam,

02 Oktober 2015

Petuah dan Nasehat Yudisium Fasilkom UNSIKA


Alhamdulillah,kemarin diajak Bu Sofie buat ikutan yudisium mahasiswa lulusan Fasilkom periode 1 tahun ajaran ni,yang rencananya akan wisuda 24 Oktober. Hmm,tapi posisi duduk saya di depan memandangi wajah-wajah calon S.Kom (Sarjana Komputer). Memang tiap daerah atau tiap Universitas punya budaya atau aturan yang khas.Jujur,baru kali ini saya tahu model yudisium.Dulu pas S1, keputusan lulus atau tidak lulus langsung saya dengarkan dan diputuskan setelah selesai sidang skripsi. Mekanismenya setelah tanya jawab saya diminta keluar ruang sejenak,lalu dipanggil dan pembimbing saya yang menyatakan lulus.^_^
Kembali ke yudisium kemarin,saya awal-awal diam mengamati karena tidak tahu bagaimana susunan acaranya. Ternyata suasananya memang serius,37 mahasiswa ini tegang sepertinya.Karena pak Dekan menyampaikan “bisa jadi ada yang tidak lulus”, salah satu alasannya karena nilai ujian akhirnya C. Selain itu,beliau juga menyampaikan evaluasi berupa akhlak/attitude dan kemampuan komunikasi.

Jadi 3 hal itu yang dievaluasi yaitu kualitas skripsi dan keilmuannya, kemampuan komunikasinya, dan attitude/akhlak nya. Keren,apalagi petuah dan nasehatnya. Ada banyak. Saya tulis yang saya ingat.
1. Jangan Sombong,Anda sudah jadi Sarjana.Dimanapun berada,tetaplah gunakan filosofi Padi,semakin tua semakin merunduk. Semakin tawadhu. Sudah banyak orang cerdas,tapi yang baik akhlaknya jarang.
2.Bersyukurlah,bahwa gelar sarjana ini presentase di Indonesia,bahkan di karawang masih sangat sedikit. Sehingga kalau sudah “sarjana” anda diharapkan dapat mengabdi dan membantu masyarakat.
3.Jaga nama baik almamater Anda.Karena yang membuat kampus ini dinilai bagus apa tidak ya melihat lulusan dari kampus ini.Kalau suatu saat Anda sukses,maka ingatlah dan bantulah kampus ini.

Keren,entahlah.Saya jadi kangen dengan 2 almamater saya, Universitas Brawijaya dan Universitas Indonesia.Boleh jadi kedua kampus tercinta ini seakan seperti “kerajaan” yang kokoh dan keren. Tapi semuanya akan jadi “biasa” kalau kita sebagai alumni tidak menjaga nama baik almamater. Tetaplah jadi sosok yang tawadhu,akhlak yang baik,dan komunikasi yang sopan dan dari hati.
Oke,cukup cerita saya.
Semoga siapapun Anda,yang sudah “sarjana” tetaplah menjaga nilai ke-“sarjana”-an Anda.^_^

copaste dari https://www.tumblr.com/blog/bethanurina

15 September 2015

Pengabdian Pasca Lulus S2 Beasiswa BPPDN DIKTI

Bismillah...
Hai semuanya.... yang lagi pengen tahu terkait beasiswa S2.
lama sekali rasanya tidak cerita hal-hal tentang beasiswa. Kalau hampir setahun lalu saya cerita terkait beasiswa BPPDN Calon Dosen DIKTI, dan semoga cerita singkat saya saat itu menambah motivasi dan bayangan terkait beasiswa kuliah S2. Tapi ternyata sayang sekali, beasiswa model begitu tidak dilanjutkan lagi. Tapi BPPDN khusus dosen, atau calon dosen yang direkomendasikan universitas home base.

Okelah, apapun itu ya, saya mulai cerita saja. Bagaimana sih kelanjutan setelah lulus S2?
Bulan Agustus lalu, ada agenda Scientific Meeting IV yang mengundang DIKTI dan teman-teman penerima BPPDN Caldos untuk datang dan bahas terkait topik menjadi "the Great Lecturer". Penjelasan tentang pengabdian dan bagaimana prosesnya juga dijelaskan dengan lugas.

Oh iya, saya sudah lulus dari S2 Fasilkom UI itu bulan Januari 2015 dan selesai wisuda Februari 2015. Proses selanjutnya adalah Lapor Diri dan update info di web DIKTI. Okelah, saya ikuti prosedurnya. Bulan Februari dan maksimal Maret lah urusan itu semuanya beres. Minta password ke bagian kemahasiswaan dan update info diri. Lalu, ngapain lagi? Yup, galau. Hahaha, yang harusnya beasiswa S2 diberikan jatah 2th kuliah, malah selesai 1.5 th. Wow, keren ya? Hooooo, hiks hiks.... itu perjuangan dan "MAKSA BANGET". Berawal dari "ancaman" bakal ditinggal pembimbing, jadinya malah cepet lulus. Kali ini "ancaman" justru jadi "STRENGTH", minjem istilah dari SWOT. Hehe

Mulailah pasca lulus, merencanakan hidup setelah ini mau kemana. Ahhhh, bayangan "siap ditempatkan dimana saja" langsung menghantui. Awal kali daftar beasiswa doeloe kala tak pernah gusar, udah lolos dan dapat beasiswa aja suenengnya bukan main. Hohoho, baru deh mikir sekarang setelah lulus kemana. Oke, mulai kebanjiran pesan di semua medsos tentang lowker dosen dimana-mana.

Yaaaa, ada kesempatan jadi jangan dilewatkan. Ada lowongan dosen informatika di UNIPDU, kampusnya deket dengan rumahku di Jombang. Okelah, babibu nya ga lama akhirnya apply juga. Seminggu kemudian langsung dipanggil dan interview. Wuuuuz, esok harinya langsung ditelepon kalau ketrima. Hwaaaaa, harus seneng apa sedihh? Galau. Itu bulan Maret. Jujur saat itu masih pingin di Depok.

Ok, lanjut perjalanan hidup di bulan April. Mendadak ada pengumuman bahwa Betha Nurina Sari ditempatkan di UNSIKA Karawang. Nah, muncul perasaan aneh lagi. Apaaaa? Karawang? Alhamdulillah masih di pulau Jawa. Hihihi, masih aman. Pekan terakhir di bulan april akhirnya dihubungi juga sama Kaprodi dari Fasilkom UNSIKA. Hehehe, saat itu jawabanku "gantung" banget. Jujur, antara milih pulang ke jombang untuk mengabdi, atau ke UNSIKA yang sudah mulai PTN tahun 2015 ini. Kebingungan masa depan kayak gini ga enak lah kalau diputuskan sendiri, akhirnya berangkatlah saya ke DIKTI, lokasinya deket GBK senayan situ. Oke, sudah curhatnya. Lalu rekomendasinya ke UNSIKA.

Fix, UNSIKA.
foto bersama Eka, hari Kamis 2 sept 2015

Foto bersama Nana 13 Agustus 2015

Oke, bismillah. Inget banget deh, saat itu adalah H-2 Puasa. Hohohoho. Jadinya ga tega kalau puasa-puasa panas-panasan ke karawang. Pending deh sampai habis lebaran. Dan konkritnya, pertama ke sini bulan Juli. Udah akhir lagi. Prosesnya cepet kayak kilat. Tanggal 13 Agustus ke unsika untuk awalan akhirnya, wuaaaah cepet banget prosesnya. Kuliah perdana mulai 7 September 2015, itulah hari pertama masuk di sini. Udah gitu aja. Ini lagi ngetiknya juga duduk di ruang dosen fasilkom Unsika, di saat longgar jam kuliah masih 2 jam lagi. #blogging deh.

Oke, cukup sekian curhatan saya. Wkwkwk. Mohon maaf kalau ada hal yang ga penting. Hanya saja pingin sekali cerita bahwa takdir Allah itu memang yang terbaik. Kondisi di sini, luar biasa baiknya, Rekan kerja yang keren dan baik hati.Hanya saja saya kadang ga nyambung kalau semuanya pakai bahasa sunda. Eta naon? Teh....wkwkwk.

Udah dulu ya...mau belajar lagi. Maklum diri ini masih pemula. See you! Semoga saya bisa dapat lagi beasiswa S3, ntar bisa cerita lagi apa, kapan, berapa, dan bagaimana.

see you,
salam ukhuwah
betha


09 September 2015

Hai, Update Blogku Tercintaaa

Hai, Update Blogku Tercintaaa

Ternyata hampir 2 bulan ini ga buka blog unyu ini. Hahaha.
Maaf ya sobat, betha seringnya cerita langsung ke tumblr.
Ada aplikasinya di HP, jadi langsung ngetik. Kalau buka blogspot, ngetiknya seringnya lewat laptop. Kesannya juga gitu harus ngetik lebih panjang. Karena ini cerita bukan status di FB atau tweet di twitter.
Ya gitu deh. Ntar lagi ya, kalau lagi "niat" akan kubersihkan debu-debu dan sarang laba-laba dari sini.
Mampir juga gitu ke bethanurina.tumblr.com yaaaa lalu follow. hahaa, kurang 1 nih jadi 100 follower.#maksa

Aku mau cerita ttg SM 4 dan cerita penempatan beasiswa dikti BPPDN Caldos.
Aku di UNSIKA, Karawang sekarang.....

Cukup dulu ya. InsyaAllah, saya sambung lagi. Saya buat draft tulisan dulu deh, biar tinggal posting.
Udahan ya.

Salam cinta
betha

23 Juli 2015

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H

Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H


Mohon maaf kalau banyak tulisan-tulisan saya yang muncul di blog ini dengan isinya yang terkadang nyampah,alias sebagai luapan hati doang. Semoga ke depan kita bisa optimalkan blog ini ke tingkat kebaikan yang lebih baik. Sementara sifatnya menjaga kelangsungan hidup blog ini, agar tetap bisa menjadi sarana menumpahkan isi hati. #Eaaa.

Ini foto kami sekeluarga lengkap alhamdulillah di 2015